Kalau anda atau anak anda ingin menjadi dokter, pikir lagi. Pikir lagi 2 kali, 3 kali, 4 kali. Tanya. Tanya sebanyak-banyaknya. Dan bila setelah itu masih yakin, bersiaplah. Bersiaplah untuk banyak hal tak terduga. Dari mulai biaya hingga tetek-bengek lainnya seperti ketentuan Dinas Kesehatan yang selalu berubah-ubah.
Kenapa saya bicara seperti ini?
Karena saya salah satu calon dokter yang sedang tertatih, kadang tersandung, dalam mencapai dua huruf elit itu terukir di depan (kadang di belakang) nama saya.
Tahun ini sudah tahun ke-6. Dan dua huruf itu belum juga saya dapat. Tapi tidak apa. Saya tahu saya sudah berada di jalur yang benar. Dan kini hanya masalah waktu. π
Petualangan ini berawal 6 tahun yang lalu. Tahun 2005. Ketika itu masih semester 2, kelas 3 SMA. Papa bertanya, ” Dek, kamu mau sekolah apa?”
“Arsitektur, Pa.”
“Dimana? ITB?”
“Iya, maunya sih. ITB kan yang paling bagus.”
Setelah diam sejenak, Papa bertanya lagi,”Memangnya kamu udah siap jadi anak kos? Kamar aja selalu berantakan.”
Ya, memang tidak ada hubungannya. Tapi saat itu, memang itulah tanggapan Papa. Saya? Hanya menghela napas.
Mulai saat itu, dimulailah hari-hari penuh ‘siksaan’.
“Kamu gimana sih, biar hari Minggu gini bangun pagi dong. Ikut Mama ke pasar! Gimana nanti kalau hidup sendiri?”
“Kamu kalau nyiapin sarapan sendiri aja gak bisa, gak usah sekolah jauh-jauh! Di Batam aja!”
Dan seterusnya. Dan sebagainya. Tiap hari bagai neraka. Tiap hari, saya seakan membuat turus di dalam pikiran saya.
Sabar, it’s just another day until you’re free, pikir saya.
Sampai pada suatu hari Papa bilang sama saya, “Temen-temen Papa bilang, kalau anak cewek mendingan gak usah ambil arsitektur. Berat banget. Dosennya kuno, galak-galak lagi. Kamu ambil FKG aja kayak Mbak Gita.”
Bagi yang tidak kenal Papa saya, pasti langsung bilang untuk mendebat beliau. Untuk mempertahankan mimpi saya. Tapi saya yang sudah kenal beliau luar-dalam, bertahun-tahun, tahu bahwa perkataan yang tampak seperti saran itu sebenarnya adalah titah. Vonis.
Dan mungkin juga saat itu takdir sedang memuntir dirinya sendiri, mempererat jalinannya, sehingga tidak ada yang saya katakan untuk mendebat Papa. Tanpa saya sadari, saya telah membuat pilihan.
Dokter. Oke, kenapa tidak?
Tapi saya tidak mau jadi dokter gigi. Maaf, bukannya mengecilkan profesi itu, tapi gigi dan mulut orang lain jelas bukan hal yang ingin saya pandangi setiap hari. Dan mengorek-ngoreknya jelas bukan pilihan saya untuk mencari nafkah.
Maka dimulailah kucing-kucingan dengan Mama dan Papa. Saat ujian saringan masuk, saya hitamkan “Kedokteran Umum” sebagai pilihan pertama. Nah, sudah.
Pada saat itu saya memandang pilihan ini sebagai tantangan.
Ya, saya memulai pendidikan menuju profesi ini dengan memandangnya sebagai sebuah tantangan.
“Lihat saja. Biarpun passion gue bukan disini, gue pasti bisa.”
Tapi siapa yang menyangka di tengah jalan, saya jatuh cinta.
Jatuh cinta dengan profesi ini. Dengan bidang ini.
Jatuh cinta dengan dosen-dosen saya. Kepribadian mereka. Dedikasi mereka untuk benar-benar melaksanakan Sumpah Hipokrates mereka.
Jatuh cinta dengan perjalanan ini.
Tapi memang, jalan ini panjang. Yep, it’s a long and effin windy road.
*this is a note from September 11,2011. π