Mereka bilang kita makan uang haram

Standard

Mereka bilang kita makan uang haram.

Maka tolong jelaskan definisi uang haram untuk kami.

Seorang penjual bakso, memiliki modal lima ribu rupiah untuk setiap mangkuk bakso yang ia jual. Harga bakso satu mangkuk sepuluh ribu rupiah. Si penjual bakso untung lima ribu, dipakai untuk menyekolahkan anak, memberi makan satu keluarga, menabung untuk berangkat umroh, bayar tagihan listrik, menabung untuk pulang kampung saat lebaran nanti.

Haramkah uang itu?

Apa bedanya dia dengan kami, para pemakai jas putih?

Karena kami cari nafkah dari upaya-upaya menunda kematiankah kalian begitu ingin mencari kekurangan kami?

Apakah kami tidak layak dibayar? Anak-anak kami tidak layak disekolahkan? Keluarga kami tidak layak makan dan punya tempat tinggal layak? Apakah selayaknya kami harus hidup miskin dan berkekurangan tapi disaat yang sama tersenyum senang tiap kalian datang mencari pertolongan?

Bila seperti itu maka kami undur diri. Biarlah si sakit mengobati dirinya sendiri. Biarlah si mati dan si terbunuh tidak pernah tersentuh oleh tangan kami. Biarlah si bayi kecil lahir sendiri. Biarlah si pincang, si bisu, dan si tuli tetap tersesat.

Karena seperti kalian, kami pun tidak mau makan uang haram.

Kukis Lumer Dimulut – Melting Teething Biscuit (8mo+)

Standard

intro

Jadi ceritanya Aireen lagi GTM sangat, alias susah makan. Entah kenapa lagi anti banget sama yang namanya sendok, pokoknya kalo disodorin sendok langsung tutup mulut rapet-rapet. Hampir tiap hari jadi drama, gara-gara emaknya galau anaknya gak mau makan. Udah dikasih kaldu, campur ASIP, campur keju, kasih unsalted butter, ditumis pake bawang putih, naik tekstur, turun tekstur, tetep ajaaaa paling banyak makannya 5 suap. Ihiks.

Akhirnya, browsing di webnya MamaKokiHandal ketemulah resep Kukis Lumer Dimulut peruntukan bayi 8 bulan. Bikinnya gampil banget dan gak makan waktu. Setelah jadi, hasilnya biskuitnya rasanya mirip kaastangel tapi versi lembuuut. Jujur aja, gue aja doyan. Dan pas dicobain ke Aireen, ternyata dia sukaaa banget. Mangap terus minta disuapin lagi. Jadilah biskuit ini jadi cemilan andalan dan jadi pancingan sambil makan besar. Hihi.

So… here’s the recipe :

Bahan :
1 cup tepung terigu protein rendah (gue pake Kunci Biru)
120 gram unsalted butter


1/2 blok keju, parut. (gue pake Kraft, yang ada dirumah itu soalnya)

Cara membuat :
Panaskan oven hingga suhu 175derCel.
CAmpur semua bahan, uleni dengan tangan hingga tercampur rata.
Jangan heran kalo adonannya gak kalis, alias nempel banget ditangan.
Masukin aja adonan ke dalam plastik segitiga, terus cetak aja kaya bikin kue lidah kucing.
Letakkan di atas loyang yang sudah dialasi kertas roti dan ditaburi sedikit terigu.
Panggang selama kurleb 20 menit, atau lakukan tes tusuk gigi.

Udah deh, gitu doang. Untuk balita yang usianya udah diatas 1 tahun, adonannya boleh ditambah gula halus atau icing sugar. Jadinya lebih manis dan lebih firm kalo dipegang.

Fotonya menyusul yaaa. πŸ˜‰

20130330-161821.jpg

Aya Sophia, no more :)

Standard

Gue suka menulis. Dan menikmati menulis apa saja. Rasanya puas sekali kalo sudah menyelesaikan satu posting baru. Hmm, jadi ngebayangin, gimana rasanya kalo bisa sampe menerbitkan satu buku. πŸ™‚

Ya, gue suka menulis. Gak jago, sepertinya. Tapi gue mencoba selalu berusaha. Memperbaiki cara penulisan, memperbaiki grammar bila menggunakan Bahasa Inggris. Mudah-mudahan sih seiring tiap tulisan terbit, semakin baik.

Jujur, dalam tiap tulisan gue membayangkan bisa memprovokasi pikiran orang lain dengan ide-ide yang tertuang didalamnya. Gue membayangkan ada yang menyetujui, bertanya, atau bahkan mendebat. Pasti akan menyenangkan. Well, since I have kept this blog in secret for nearly a year, no wonder that only few had visited it. And for that reason, I decided to published this blog on my twitter bio.

Gak pake digembar-gembor di twit sih, cuma mau test aja, dicantumin di bio twitter. So..yeah, I no longer write this blog as Aya Sophia no more.

Cheers,

Putri Yuliani

PS : Zudy Fardy, thank you. For telling me that I’m a genious writer when I know that I’m not. πŸ™‚ And for accepting me for who I am. I love you.

Dokter?

Standard

Kalau anda atau anak anda ingin menjadi dokter, pikir lagi. Pikir lagi 2 kali, 3 kali, 4 kali. Tanya. Tanya sebanyak-banyaknya. Dan bila setelah itu masih yakin, bersiaplah. Bersiaplah untuk banyak hal tak terduga. Dari mulai biaya hingga tetek-bengek lainnya seperti ketentuan Dinas Kesehatan yang selalu berubah-ubah.

Kenapa saya bicara seperti ini?

Karena saya salah satu calon dokter yang sedang tertatih, kadang tersandung, dalam mencapai dua huruf elit itu terukir di depan (kadang di belakang) nama saya.

Tahun ini sudah tahun ke-6. Dan dua huruf itu belum juga saya dapat. Tapi tidak apa. Saya tahu saya sudah berada di jalur yang benar. Dan kini hanya masalah waktu. πŸ˜‰

Petualangan ini berawal 6 tahun yang lalu. Tahun 2005. Ketika itu masih semester 2, kelas 3 SMA. Papa bertanya, ” Dek, kamu mau sekolah apa?”

“Arsitektur, Pa.”

“Dimana? ITB?”

“Iya, maunya sih. ITB kan yang paling bagus.”

Setelah diam sejenak, Papa bertanya lagi,”Memangnya kamu udah siap jadi anak kos? Kamar aja selalu berantakan.”

Ya, memang tidak ada hubungannya. Tapi saat itu, memang itulah tanggapan Papa. Saya? Hanya menghela napas.

Mulai saat itu, dimulailah hari-hari penuh ‘siksaan’.

“Kamu gimana sih, biar hari Minggu gini bangun pagi dong. Ikut Mama ke pasar! Gimana nanti kalau hidup sendiri?”

“Kamu kalau nyiapin sarapan sendiri aja gak bisa, gak usah sekolah jauh-jauh! Di Batam aja!”

Dan seterusnya. Dan sebagainya. Tiap hari bagai neraka. Tiap hari, saya seakan membuat turus di dalam pikiran saya.

Sabar, it’s just another day until you’re free, pikir saya.

Sampai pada suatu hari Papa bilang sama saya, “Temen-temen Papa bilang, kalau anak cewek mendingan gak usah ambil arsitektur. Berat banget. Dosennya kuno, galak-galak lagi. Kamu ambil FKG aja kayak Mbak Gita.”

Bagi yang tidak kenal Papa saya, pasti langsung bilang untuk mendebat beliau. Untuk mempertahankan mimpi saya. Tapi saya yang sudah kenal beliau luar-dalam, bertahun-tahun, tahu bahwa perkataan yang tampak seperti saran itu sebenarnya adalah titah. Vonis.

Dan mungkin juga saat itu takdir sedang memuntir dirinya sendiri, mempererat jalinannya, sehingga tidak ada yang saya katakan untuk mendebat Papa. Tanpa saya sadari, saya telah membuat pilihan.

Dokter. Oke, kenapa tidak?

Tapi saya tidak mau jadi dokter gigi. Maaf, bukannya mengecilkan profesi itu, tapi gigi dan mulut orang lain jelas bukan hal yang ingin saya pandangi setiap hari. Dan mengorek-ngoreknya jelas bukan pilihan saya untuk mencari nafkah.

Maka dimulailah kucing-kucingan dengan Mama dan Papa. Saat ujian saringan masuk, saya hitamkan “Kedokteran Umum” sebagai pilihan pertama. Nah, sudah.

Pada saat itu saya memandang pilihan ini sebagai tantangan.

Ya, saya memulai pendidikan menuju profesi ini dengan memandangnya sebagai sebuah tantangan.

“Lihat saja. Biarpun passion gue bukan disini, gue pasti bisa.”

Tapi siapa yang menyangka di tengah jalan, saya jatuh cinta.

Jatuh cinta dengan profesi ini. Dengan bidang ini.

Jatuh cinta dengan dosen-dosen saya. Kepribadian mereka. Dedikasi mereka untuk benar-benar melaksanakan Sumpah Hipokrates mereka.

Jatuh cinta dengan perjalanan ini.

Tapi memang, jalan ini panjang. Yep, it’s a long and effin windy road.

*this is a note from September 11,2011. πŸ™‚

Mati Lampu dan Kipas Beruang

Standard

Mati lampu di tengah hari yang panas itu emang cukup bikin mati gaya. Seperti sekarang. Lagi asik-asiknya becandaan sama Aireen, tiba-tiba gelap. Aireen sih kayaknya cuek, tetep ketawa-ketawa dan nyembur-nyemburin ludahnya, ‘kepintaran’ baru yang entah dia belajar darimana.

Akhirnya gue memutuskan untuk ngajak Aireen tidur siang aja. Waktu lagi menidurkan Aireen, gue meraba belakang kepalanya karena biasanya dia gampang banget keringetan disitu, dan bener aja, belakang kepalanya basah kuyup. Kasian, siang ini memang panas banget dan PLN memang paling jago milih waktu yang paling pas untuk pemadaman bergilir. Akhirnya Aireen gue kipasin pake bantal kecil. Saat lagi ngipasin Aireen dan melamun, jadi teringat beberapa bulan lalu saat masih di Lampung.

Waktu itu masih hamil, dan Lampung, terutama Lampung Timur tempat gue tinggal saat itu, memang juara mati lampu. Frekuensinya bisa lebih sering dari signatura resep Amoxicillin. Bisa lebih dari tiga kali sehari. Belum lagi daerah Lampung Timur bukan daerah yang sejuk macam Bandung atau Magelang. Disana panas. Gerah. Ditambah hamil, jadi lebih meriah gerahnya.

Gue paling lemes kalo udah malam hari. Badan udah capek, mata udah ngantuk, tapi udara panas dan pengap. Pakai kipas angin dua, masih belum terasa sejuk. Kalo ditambah mati lampu. Asik. Bisa begadang bengong sampe jam tiga pagi.

Tapi sekarang kalo dipikir-pikir lagi, situasi seperti banyak banget hikmahnya. Dari mulai jadi lebih mensyukuri keberadaan air conditioner (AC), mendoakan semoga penemu AC masuk surga (amin), hingga jadi sadar betapa suami gue sayang sama gue. Lah?

Hehe. Iya. Jadi semua intro panjang diatas adalah sebenernya karena gue teringat perlakuan manis suami saat mati lampu di Lampung.

Waktu itu akhir minggu, dan suami seperti biasa dateng ke Lampung untuk nemenin gue, istrinya yang lagi hamil yang saat itu lagi jadi istri paling manja sedunia. πŸ™‚ Malam hari, lagi tidur enak-enak, tiba-tiba *blep* mati lampu. Gue si bumil-gampang-kegerahan-dari-manusia-normal mulai gelisah. Sebel sendiri karena kepanasan, sedangkan pas ngelirik kesebelah, suami masih tidur nyenyak. Akhirnya cuma bisa menghela napas, lalu beranjak ngambil kipas gambar beruang di atas meja.

Baru lima menit tiduran sambil kipas-kipas, tiba-tiba suami bangun, “Mati lampu ya sayang?”

“He eh.”

“Itu kamu ngapain?”

“Kipas-kipas. Gerah banget.”

“Ya udah sini aku kipasin.”

“Ha?”

“Sini,aku yang kipasin.”

Kipas beruang sayang itu pun berpindah tangan, suami gue setengah mengantuk ngipasin gue.

“Kamu gak capek?”

“Gak. Udah kamu tidur aja. Biar aku kipasin.”

Dan gue pun tertidur dengan bahagia malam itu. Gue rasa sebenernya bukan karena dikipasin gue bisa tidur nyenyak lagi. Tapi karena dicintai. πŸ˜‰

Afternote : Biarpun kenangan itu indah, bukan berarti gue mau balik lagi ke Lampung buat ngalamin Internsip sambil hamil lalu mati lampu. :p

9.06 PM

Standard

Ini adalah waktu langka. Disaat seisi rumah sudah tertidur. Disaat malaikat kecil sudah selesai disusui dan ditidurkan.

Ini adalah waktu langka. Ketika akhirnya hanya ada aku saja. Berpikir sendiri, merasakan, meresapi, mensyukuri.

Ini adalah waktu langka. Saat-saat memutar kembali 24 jam terakhir. Kadang menangis teringat yg sulit, kadang senyum sendiri teringat nikmat yg luar biasa.

Teringat 8 jam lalu. Saat terisak mengutuk tuhan, lalu 20 menit kemudian mengucap syukur dan berdzikir bertubi-tubi.

Teringat 2 jam lalu. Mengusap-usap dahi bayi kecil sambil menggenggam tangannya yg mungil hingga tertidur sendiri.

Teringat setengah jam lalu. Setengah mengantuk memangku malaikat kecil, menunggu isyarat lapar darinya.

Lalu teringat setahun lalu. Dimana tidak satupun dari ini semua pernah terbayang. Tidak pernah sekalipun membayangkan diri sendiri berperan sebagai ibu.

Tidak pernah menyangka insting seorang ibu selama ini hanya mengendap. Menunggu saatnya dikeluarkan. Seperti saat ini.

Tidak pernah menyangka akan otomatis rela dan ikhlas berkorban untuk anak. Otomatis mencintai bidadari kecil ini sepenuh hati.

Kurasa tuhan memang selalu punya cara untuk bercanda.

Ya. Waktu ini langka.

New Chapter

Standard

Hi. It’s me again.

Where have you been?

Here and there. There and back again. πŸ™‚

Well, I know it’s been months or perhaps, a year?, since my last post. Seems like this blog has gained nearly 3 inches dust. *ambil sapu*

You might ask,”What happen?”

And I would answer,”Life happens.” with a sheepish smile, of course. πŸ˜‰

So..Hi! Nice to see you again, dear reader. Pardon my writing, since I hadn’t practiced my writing muscles for months.

Where to start

Yep. Mulai darimana. Orang yg ngakunya cerdas akan bilang,”Ya dari awal lah!”. Tapi seringnya mereka tidak sadar betapa bisa sangat sulitnya menentukan awal. Beginning.

Ya, darimana? Dari cerita pernikahan kah? Kelahiran? Keberangkatan? Perpisahan? Mimpi-mimpi yang mengendap dan mimpi-mimpi baru yang lahir?

Ah, sudahlah. Nyerah. Aku akan mulai darimana saja aku mau. Awal,akhir,tengah, kembali ke awal. πŸ™‚

The Judgement Day

Terakhir kali ‘meninggalkan’ blog ini saat sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Masih ‘heboh’ sehabis acara Sumpah Dokter. Masih belum benar-benar berasa sudah ‘lepas’ dari kampus. Sekarang? Hidup sudah jauh berlari dari titik itu. Kenapa berlari? Karena memang sudah begitu jauh dari titik itu. πŸ™‚

Karena hidup yg berlari itulah, salah satu alasan blog ini tersisihkan. Ide-ide tulisan terpaksa disuruh menepi dulu, duduk manis disudut otak. Yang penting-penting, diberi coklat panas dan biskuit tawar dulu, bersabar untuk dikeluarkan nanti.

Dan sekarang, nanti adalah saat ini. Nanti itu adalah sekarang, disaat rasa rindu untuk menulis sudah begitu besarnya. Menyemut didalam kepala. Berbaris rapi ingin keluar. Ingin dilahirkan.

And so..Hi! It’s me again. I welcome me back in my blog. πŸ™‚

Between Wuthering Heights and Jane Eyre

Standard

I have been officially jobless for a week. Had finished my major in medicine 2 months ago. Had taken my Oath of Hippocrates a month ago. Had taken the National Competence Examination week ago. All were done (for now, at least).

Since I didn’t have any job (yet), nothing to do in particular, and I started to get bored, I decided to read ALL my classic novels collection on my iPod Touch. In my imagination, I had this clear view that by the end of this week, I would end up being a classical novels bookworm. Literally. I was wrong.

These novels are quite hard to read or in proper term, hard to understand. I found myself reading Wuthering Heights in a snail speed. I almost decided to quit when I reached the page 250 but thanks to my huge pride I kept on reading it to the last page, to the very last word. Took three days. *sighed*

Well, Wuthering Heights was not one my favorite then. I understand the destructive love of Heathcliff to Catherine Earnshaw, yes. I get the whole picture about those who lived at Wuthering Height and Thuscross Grange. But, I could not enjoy myself much while reading it. I have to struggle while reading it. Emily Bronte’s style of writing wasn’t really my favourite. But still, it was a good read.

So, after I pull the confetti when I finished Wuthering Heights, I scrolled my novels collection. Up and down. Up again, down again, till a title sparkled in my eyes. *drumroll*

Jane Eyre.

Actually, I was rather pessimistic about this one at first. How could I not? I didn’t even know how to spell “Eyre” correctly. I had to Google-ed it.

So I opened the first page, took a deep breath, and started to read slowly. Word after word, my reading speed increase gradually and…zap! The world of dear Jane Eyre surrounded me, I was easily drawn to her emotion, her world, her anger , her anxiety, and her joy. I found myself smiled in delighted with her when she’s glad, and raged with her in anger. Β And I started to love her the same way I love Harry Potter, Percy Jackson, Gypsy, Ella, and every other character I love.

I discovered Jane Eyre Β was a beautiful piece and Charlotte Bronte was a genius.

Now, at this hour, I have finished nearly half of the book, without struggle. *winked* I will share my review about that book later, in my next post (hopefully). I really hope you will love Jane Eyre as I do.

Little Judgement Day?

Standard

So tomorrow is suppose to be a big day. A little judgement day.

And why did I put the word ‘suppose’ on that sentence? Because I don’t feel the adrenaline rush. Not yet. But that’s okay, because I am well known for my flat expression. As my anxiety grows larger, my expression getting dull. I remember my dear friend Riska told me 2 years ago, “How come you can stay perfectly calm? We’re gonna have our OSCE tomorrow!”

I said, “I AM scared to death, Ris. You have no idea.”

Then she laughed and said, “Ah, I see. You’re schizophrenic.”

Gee, thanks. I was just admit that I am scared to death and my bestfriend said I am schizophrenic. Very comforting.

Well the truth is, I have this little problem with my innerself when I’m anxious or panic. I tend to repress it, tried my best to not talk about it. Not a word. Na-ah. It’s like I am challenging everyone in front of me and said something like, “Go on. Try me. You will NOT get any word from me. No, I won’t say that I am panic.”

Some people may get the wrong impression that I have problem with my pride. That I have overrated my pride. It’s not it. It’s just,..well, if I SAY that P-word, then I will get out of my mind. Boom. And you don’t want this to happen. Really. πŸ˜‰

Perfect, now I am babbling. At midnight. When I suppose to review my UKDI 100%. Well, I will end my post now, really nice to talk to you at this hour.

Over and out.

P.S I love Brian McKnight. (Yeah, I know it has nothing to do with this post, I just want to write it since his voice is the only thing that keeps me sane in this wild world. And yes, I am dramatizing. Have a good sleep, don’t let the bad bug bites.)

waktu beku

Standard

Biarkan saja seperti ini. Tetap dititik ini. Tidak perlu maju lebih jauh. Tidak perlu mundur juga.

Biarkan saja seperti ini. Aku mengobservasi kamu. Kamu mengobservasi aku.

Kita semua memang sebaiknya hanya seperti ini. Hanya otak dan ide saja yang terus berlari. Hanya mulut saja yang rajin memproduksi kata-kata. Tapi tanda tanya biar saja tetap jadi tanda tanya. Tidak perlu ada jawaban. Karena kita sama-sama tahu.
Kita tahu persis apa yang sebenarnya terjadi.

Secangkir coklat panas. Mungkin dua. Segelas besar kopi. Kursi-kursi yang telah dilipat dan dinaikkan ke atas meja. Lampu-lampu yang setengah hidup. Langit oranye. Senyum yang beku didalam lensa.

Ya, biarkan waktu beku disini.

Setiap kali ada kita.

-di tepi lapangan futsal, dengan backsound menye-menye yang entah kenapa terus terulang di telinga dan vampir-vampir mini yang semakin ganas-